Sekitar tahun 1900 hingga 1940-an, pintu masuk Museum Bahari masih sejajar dengan jalan di depannya. Saat itu, tembok yang menghadap ke jalan menjulang sekitar tiga hingga empat meter sehingga pintu masuk tampak tinggi. Bahkan, masih terdapat ruang yang cukup tinggi di bagian atas pintu sehingga orang bertubuh tinggi pada masa itu, termasuk bangsa Belanda, dapat melintas dengan leluasa. Seiring berjalannya waktu, kawasan pesisir Jakarta mengalami penurunan tanah yang disertai banjir berulang. Kata Firman, untuk mengurangi dampaknya, permukaan tanah di sekitar Museum Bahari kemudian ditinggikan hingga sekitar 120 sentimeter. Akibat peninggian tersebut, elevasi jalan saat ini lebih tinggi dibandingkan lantai asli bangunan museum. Oleh karena itu, pengunjung yang datang ke Museum Bahari harus menuruni anak tangga dari jalan raya sebelum memasuki area museum. Perbedaan elevasi inilah yang membuat pintu Museum Bahari tampak lebih pendek dibandingkan kondisi aslinya pada masa lalu. Kendati demikian, struktur pintu dan bangunan tetap dipertahankan sebagai bagian dari pelestarian bangunan cagar budaya peninggalan VOC di kawasan Sunda Kelapa. Bagi yang berencana datang ke Museum Bahari, simak harga tiket masuknya berikut ini: Selasa-Jumat: Sabtu-Minggu: Selasa-Jumat: Sabtu-Minggu:
Alasan pintu Museum Bahari tampak pendek
Terdampak penurunan tanah
Dok. Wikimedia Commons/Haryo Sutanto Museum BahariTiket masuk Museum Bahari
Tiket masuk Museum Bahari (per orang)
Tiket masuk Museum Bahari (Grup minimal 30 orang)